Cerita Dewasa Seks Nikmatnya Memek Aura Kasih

Cerita dewasa Nikmatnya Ngentot Memek Sempit Aura Kasih merupakan cerita dewasa yang sengat populer dan sudah dibaca oleh jutaan orang.

“Kring… Kring…”
“Halo ? Bagaimana Pak pertemuannya ?”, tanya suara merdu seorang wanita. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih mulus, rambutnya hitam berkilau. Sang wanita sedang mengenakan tank top biru ketat yang membungkus buah dadanya yang bulat menantang, pantatnya yang seksi hanya ditutup oleh celana pendek biru yang senada. ” Mohon maaf Mbak Aura.. Tapi saya gagal, pihak lawan tetap meminta pembayaran sebesar 2 M.. “, balas suara pria di seberang telepon tadi.
Mendengar itu, sang wanita yang dipanggil Aura menjadi lemas, tidak terbayang dirinya mencari uang sebanyak itu. Sang wanita adalah Aura Kasih, penyanyi yang sedang naik daun dengan lagu Mari Bercinta, didukung suara yang cukup mumpuni dan lekuk tubuh yang menggoda setiap pria sehingga karir musiknya cepat menanjak. Namun, saat ini Aura sedang bermasalah dengan salah satu promotor karena dianggap menyalahi kontrak dan dituntut membayar 2 M. ” Apakah tidak ada cara lain lagi Pak ? “, suara Aura terdengar memelas. Sang pria, yang adalah pengacara Aura, menjawab, ” Saya sudah berusaha sebisa saya.. Tapi mereka tidak bergeming.. “. ” Lalu apa yang harus saya lakukan Pak ? Saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang.. Tolong bantu saya Pak.. “, mohon Aura dengan suara memelas yang menggoda. “Hmm.. Bagaimana ya.. “, pikir sang lawan bicara sambil menyatakan pikirannya. ” Kemarin sebenarnya ada yang menawarkan bantuan.. Tapi.. “, lanjut sang pengacara yang terdengar ragu. “Bantuan ? Siapa pak ? Tolong beritahu Saya.. “, sergah Aura. Sang pria kemudian dengan enggan menjawab, ” Jadi begini…. ”
Pukul 12.30, keesokan harinya, sebuah taksi terkenal ibukota berwarna biru bergerak memasuki lobi Hotel bintang 5 di bilangan Thamrin. Setibanya di lobi, petugas hotel langsung membukakan pintu sambil berkata, ” Selamat datang di Hotel ****”. Ketika matanya melihat sosok yang akan turun dari taksi tersebut, sang penjaga hotel langsung menelan ludah dan terperangah. Terlihat kaki panjang yang putih dan mulus, kemudian rok hitam pendek yang berhenti sedikit di atas lutut.
Bagian atas sosok tersebut juga tidak kalah menawan, badan proporsional yang mengenakan blazer putih dengan dalaman hitam. Tas putih senada tidak lupa ditenteng di tangannya. Meskipun mengenakan kacamata hitam, tetap saja wajah Aura Kasih terlihat mempesona. ” Terima kasih. “, ujarnya sambil berlalu masuk ke lobi hotel melewati penjaga pintu yang juga bereaksi sama dengan rekannya. Dalam hatinya mungkin mereka berpikir mimpi apa semalam sampai bisa melihat makhluk yang begitu menggoda.
Sesampainya di dalam, Aura langsung berjalan menuju restoran Eropa yang terletak di atas lobi hotel tersebut. ” Selamat siang. Untuk berapa orang Bu ?”, tanya pelayan restoran yang berdiri di pintu masuk. “Saya sudah ada reservasi dengan Pak Dicky. “, jawab Aura sambil melihat ke dalam restoran, mencoba mengintip penampakan teman makan siangnya. “Pak Dicky ya ?”, balas si pelayan sambil melihat catatannya, “Oke Bu, silahkan lewat sini, saya antarkan ke meja. “, lanjutnya. Sambil berjalan mengikuti si pelayan, Aura sibuk berpikir dalam hati, “Siapa Pak Dicky ini ? Kenapa dia mau menolongnya ? Bagaimana cara dia akan membantu ?” Aura tidak menyadari pandangan para pria yang sedang bersantap di restoran itu, yang berharap dalam hatinya untuk “menyantap” Aura. Saat si pelayan berbelok ke arah meja yang berada di sudut, Aura menyadari hanya 1 meja yang ditempati. Pria yg menempati meja tersebut tampak berusia 30an, wajahnya tidak ganteng tapi juga tidak jelek, kulit nya sawo matang, tubuhnya tidak kurus juga tidak gemuk tapi berisi. Gaya berpakaiannya menunjukkan bahwa ia orang yang cukup kaya, terlihat dari merk dan kualitas setelan jas yang digunakannya. Intinya dia tipe orang yang biasa saja tanpa ciri yang khusus sehingga mudah dilupakan dan tidak menarik perhatian. Meskipun begitu Aura merasa gelisah melihat cara pria tersebut menatap dirinya. Sang pria berdiri dari kursinya ketika Aura sampai di meja tersebut, ” Silahkan.. Kenalkan saya Dicky”, ujarnya sambil menyodorkan tangan ke Aura. Aura sedikit ragu, tapi akhirnya ia menjabat tangan sang pria. Setelah duduk, mereka kemudian memesan makanan, Dicky memesan spagetti sedangkan Aura memesan salad saja. Untuk minuman Dicky memesankan wine yang cukup mahal untuk mereka berdua. Selama menyantap makanan, mereka lebih banyak berbicara mengenai karir Aura, album musik, sinetron dan sebagainya. Dari obrolan itu, Aura mengetahui bahwa Dicky adalah seorang pengusaha dan dulu pernah kuliah di luar negri. Setelah selesai menyantap makanan masing masing, Aura memberanikan diri memulai pembicaraan tentang tujuan pertemuan ini sebenarnya. “Maaf Pak Dicky, saya mau tanya tentang bantuan yang Pak Dicky tawarkan pada pengacara saya ? “, tanya Aura. “Oh soal itu.. Ya saya memahami kesulitan kamu.. Uang segitu gak masalah buat saya.. Tapi ada syaratnya.. “, balas Dicky. Jawabannya Dicky sudah bisa ditebak oleh Aura, tidak mungkin ada orang yang rela membantunya begitu saja, tapi karena dia sedang dalam kesulitan maka dia berpikir tidak ada salahnya mendengar penawaran pria ini. “Syaratnya apa Pak ?”, tanya Aura, perasaan gelisah kembali menhinggapi Aura melihat senyum dan tatapan Dicky. “Syaratnya mudah koq.. Hanya menemani saya di kamar hotel ini satu malam saja.. Bagaimana ? Mudah bukan ?”, jawab Dicky. Mendengar jawaban Dicky, wajah Aura memerah, setengah menahan kesal, dirinya memang sudah tidak perawan karena berhubungan dengan pacarnya, tapi dia juga tidak mau dianggap wanita murahan yang bisa dibayar untuk tidur bersama. “Dasar !! Loe jangan kurang ajar ya.. Loe kira gw cewek apaan !?”, hardik Aura, hampir seisi restoran melihat ke arah meja mereka. Namun, Dicky tetap tersenyum dan melambai ke pelayan dan tamu yang lain seolah tidak ada apa apa. ” Tenang dulu.. Saya tidak memaksa kok..
Terserah anda mau menerima bantuan saya atau tidak.. Coba tanya diri anda, dari mana Anda bisa memperoleh uang sebanyak itu dalam waktu singkat.. Apakah anda sudah terbayang hidup di penjara ? Makanannya ? Belum lagi diplonco oleh sesama napi.. Jangan dikira hidup di penjara itu mudah.. Lebih baik anda menemani saya.. Dijamin lebih enak.. Hahaha.. “, balas Dicky. Aura hanya bisa terdiam sambil melotot menatap Dicky, semua yang dikatakannya sangat mengena, Aura tidak punya jalan lain untuk mendapatkan uang sebanyak itu, semua teman dan kerabatnya tidak ada yang bisa membantu, dirinyua juga takut membayangkan hidup di penjara. Melihat Aura yang hanya bisa terdiam, Dicky merasa di atas awan, sudah hampir pasti dia berhasil mendapat mangsanya. “Anda pikirkan saja dulu..”, tukasnya sambil menuangkan wine lagi ke dalam gelas Aura, ” pikiran baik baik sambil menikmati anggur mahal ini.. Saya tunggu jawaban anda.. “, lanjutnya sambil meletakan secarik kertas yang bertuliskan 4 angka di depan Aura. Dicky kemudian beranjak dari kursinya, memberitahu pelayan agar tagihannya digabungkan ke tagihan kamarnya kemudian keluar dari restoran tersebut. Aura terdiam, berpikir sambil menatap gelas anggur di tangannya. Di satu sisi, ia membutuhkan uang tersebut, di sisi lain dirinya tidak mau menjual tubuhnya demi uang. Cukup lama dia berpikir sambil menghabiskan wine yang dipesan Dicky tadi, saking asiknya berpikir tau tau wine di dalam botol sudah habis. Aura terdiam sejenak, kelihatan berpikir keras, kemudian dengan sekali tegak dia habiskan sisa wine dalam gelasnya sebelum beranjak pergi dari restoran tersebut.

Di dalam kamarnya, Dicky sedang bersantai di sofa sambil melihat lihat acara televisi. Kamar yang ditempatinya ini adalah kamar suite yang lebih luas dan nyaman dibandingkan kamar lainnya. Dia sudah melepas jas dan dasi yang dpakainya tadi. Tangannya memegang sebotol bir yang sudah mau habis. Dicky baru saja menghabiskan bir nya dan berdiri untuk mengambil botol kedua ketika dia mendengar bel pintu kamar berbunyi. Senyum kemenangan menghias wajahnya ketika ia berjalan ke pintu kamar. Di benaknya terbayang tubuh molek Aura Kasih, dan benar saja ketika pintu terbuka, Aura berdiri depan pintu. “Silahkan masuk.. “, tukas Dicky sambil bergeser. Aura terdiam sambil menatap lantai, di benaknya terpikir bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk mundur. Namun, akhirnya kaki nya melangkah masuk ke kamar melewati Dicky. Dicky menutup pintu setelah Aura masuk dan mengikutinya ke ruang tamu, Aura kemudian berbalik menghadap Dicky sambil bertanya,” Jadi mau gimana ? Ayo mulai biar cepet selesai.. “. Dicky tertawa mendengar nya, ” Hahaha saya suka gaya kamu .. Tapi santai aja.. Saya mau menikmati tubuh kamu sampai puas.. Gak setiap hari khan bisa ngentotin artis macam kamu.. “, sambil duduk di sofa tadi….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s